Peningkatan produktivitas yang signifikan tersebut merupakan hasil penerapan strategi jangka panjang ANJ, yaitu melakukan peremajaan kembali tanaman sawit yang telah dimulai sejak 2015 serta penerapan teknologi agronomi yang ramah lingkungan, seperti penggunaan kompos.
Lebih lanjut tutur Lukas, perkebunan yang berada di Kepulauan Bangka Belitung mencatat peningkatan produksi TBS yang signifikan sebesar 34,9%. Hal ini disebabkan oleh adanya area yang baru menghasilkan dari program penanaman kembali di perkebunan tersebut yang telah dimulai sejak tahun 2015. “Program peremajaan kembali secara rutin dilakukan setiap tahun di beberapa perkebunan kami dengan mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan,” jelas Lucas dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, Selasa (3/8/2021).
Selama semester pertama 2021, ANJ juga memperoleh manfaat dari tren penguatan harga komoditas minyak sawit, sehingga rata-rata harga jual minyak sawit mengalami kenaikan sebesar 31,2% menjadi US$ 719/ton.
Selain membukukan peningkatan penjualan minyak sawit, ANJ juga berhasil meningkatkan pendapatan penjualan edamame sebesar 25,2% menjadi US$ 236 ribu. Pada Maret 2021 ANJ memulai ekspor edamame beku ke Jepang, dan menerima permintaan ekspor edamame beku untuk pengiriman berikutnya.
ANJ telah memulai bisnis sayuran sejak tahun 2015 melalui anak perusahaannya, PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT], yang berlokasi di Jember, Jawa Timur. GMIT saat ini membudidayakan dan memproduksi edamame, sejenis kacang-kacangan yang memiliki protein dan antioksidan tinggi. Saat ini kapasitas produksi pabrik GMIT mencapai 6.000 ton per tahun. Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama karena pasar edamame beku di Jepang telah berkembang dengan baik. Selain itu, ANJ juga berencana melakukan ekspansi pasar ke beberapa negara di Asia Tenggara dan Benua Amerika.
(Sumber: InfoSAWIT)









